Originally Posted : abu_ahmad syafiq
Written by Adilah
Jumat, 19 Maret 2004
Bersegera menikah dan melahirkan banyak anak jelas-jelas merupakan sunnah Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam. Perlu dicatat, bahwa mengasah kemampuan kita agar setara dengan tanggung jawab tersebut juga tak kalah penting. Karena itu persiapkanlah segala sesuatu yang mesti disiapkan demi menjalankan sunnah ini.
Berikut ini diantara tuntunan syar’i dalam pendidikan anak yang dibawakan oleh seorang ‘alim Syaikh Abu ishaq Al-Huwainy :
1. Anak kecil adalah manusia kecil yang selalu membutuhkan kelembutan, cinta yang dalam dan kasih sayang yang murni.
Bermain dan bercanda dengan mereka merupakan bentuk kasih sayang dan menunjukkan kepahaman seseorang terhadap dien ini. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari:
“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi”.
Continue reading ‘Pabrik Anak Shaleh’
Sumber : myquran.com
Tret ini akan membahas tentang perbedaan antara suami (laki2) dan isteri (wanita) dari sisi psikologis. Perbedaan fisik keduanya tidak dibahas disini.Ane sarikan dari terjemahan buku Saikulujiyyah ar-Rujul wa al-Mar’iah, karya Dr. Thariq Kamal an-Nu’aimi.
1. Perbedaan Menanggapi Permasalahan
Laki2 menganggap dirinya diciptakan untuk memecahkan masalah. Perilaku ini dianggap sebagai sebuah pengungkapan cintanya kepada perempuan. Wanita menganggap bahwa dia tidak memerlukan pemecahan, yang diinginkan adalah suaminya ikut merasakan dan ikut berempati.
Contoh: seorang istri yang masuk rumah sakit untuk menjalani operasi. Setelah operasi berhasil dan keluar dari RS ada tanda kegelisahan dari istri disebabkan karena bekas yang kelihatan buruk akibat operasi. Istri curhat pada suaminya dan dijawab:
“Masalah sepele, ga usah pedulikan. Kan bisa operasi kecantikan, kamu bisa bebas dari noda itu. Masalah ini kecil dan penanganannya juga mudah.”
Jawaban ini menambah sedih istrinya dan membuatnya marah, karena ia merasa suaminya tidak memahami hakikat perasaan sedihnya bahkan meminta untuk operasi kembali.
Continue reading ‘Memahami Psikologi Suami – Istri’
Sumber : myquran.com
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat A Rum ayat 21 :
Artinya : ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Setiap suami sudah pasti menginginkan memiliki istri yang shalehah. Yang mampu menjadi penetram hatinya. Lalu bagaimana caranya agar bisa mendapatkan istri yang shaliha? Dimulai dengan langkah awal mulai berbenah dan memperbaiki diri sendiri lalu dilanjutkan dengan mencari calon istri yang shaleha Adapun Rasulullah telah memberi petunjuk dalam memilih seorang istri.
Rasulullah bersabda: ”Wanita dinikahi karena empat perkara, yaitu karena harta bendanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama ( kuat agamanya), niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah ra )
Selanjutnya apa yang harus dilakukan seorang suami agar istri yang menjadi pilihannya tersebut istiqomah dalam keshalihannya? Continue reading ‘Mempersiapkan istri shaleha’
Ide mengembalikan ummat kepada Alqur’an sudah lama dicanangkan ulama-ulama terdahulu hingga sekarang di Indonesia. Sehingga budaya menghafal qur’an diprediksikan akan menjadi tren baru dalam masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Dalam sebuah mabit di masjid Habiburrahman Bandung, seorang ustadz jebolan pakistan menceritakan mengenai sejarah perjuangan Sultan Nuruddin Zanki, keturunan Turki, dalam mengembalikan kejayaan Islam melalui panglimanya yang bernama Salahuddin Al-Ayyubi. Saat itu, ketika Dinasti Abassiyah sudah mulai ompong, Mesir dikuasai Bani Fathimiyah yang menganut Syiah Ismailiyah. Kondisi ketika itu, ummat islam ini begitu sulitnya untuk diajak berjihad dalam artian mengangkat senjata guna mengembalikan kejayaan Islam dalam satu komando khilafah ‘ala minhajin nubuwah. Karena pada saat itu, umat sibuk dengan urusannya masing-masing. Hampir mirip keadaannya dengan keadaan kita sekarang. Umat disibukkan dengan hal-hal yang membuat mereka banyak jauh dari pemahaman islam yang paripurna akibat arus ghozul fikri yang melanda demikian derasnya.
Continue reading ‘Menggagas Keluarga Qur’an’